Selasa, 02 Juni 2009

MARAH TAK ADA GUNANYA

Monday, May 4, 2009 at 10:56pm

Banyak orang menjalani hari-hari mereka yang berharga dengan perasaan seperti pengemis dan pecundang, membawa sekarung kemarahan dalam hidup mereka. Ada yang marah karena pasangannya selingkuh, ada yang marah karena dipenjara tanpa proses peradilan, ada yang marah karena mobilnya disalib oleh angkot dari lajur kiri, ada yang marah karena jalanan macet akibat massa berdemonstrasi. Ada yang marah karena perbedaan pendapat. Ada pula yang marah karena dikritik, padahal kritik biasanya ditujukan kepada orang-orang yang memiliki kelebihan, -seperti halnya batu yang dilempar ke arah pohon yang sarat buah- serta lahir dari sebuah pendapat pribadi, bukan berarti kenyataan yang ada.

Tentu ada segudang penyebab kemarahan. Seorang pemarah cenderung dominan dalam lingkungannya, mukanya bahkan tidak berseri dan jarang tersenyum, dan jeleknya lagi, ia selalu meminta orang lain untuk mengerti atas sifat dan perangai buruknya itu. Pertanyaannya, apakah kita tidak boleh marah? Apakah Islam hanya menganjurkan umatnya untuk sabar dan melarang umatnya untuk marah? Kita harus membedakan, antara memiliki sifat pemarah dan marah itu sendiri.

Ibnu al-Atsir meriwayatkan dalam 'Usudul Ghaabah' sebuah berita dari Abu Darda ra, dia berkata, “Abu Darda telah berhenti di hadapan suatu kaum yang sedang mengelilingi seseorang yang telah melakukan dosa sambil memakinya. Lalu Abu Darda bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana pendapat kalian, jika sahabat kalian ini terjatuh dalam lubang, maka apakah kalian akan menyelamatkannya? Mereka menjawab, ‘Ya, pasti kami akan menyelamatkannya tanpa diragukan.”

Abu Darda ra berkata kepada mereka, ‘Jangan banyak memaki saudara kalian sendiri. Bagamana jika Allah memaafkannya dan menguji kalian?’ Mereka menjawab, ‘Kenapa kami tidak boleh murka kepadanya, sementara ia telah melakukan dosa?’ Abu Darda ra berkata, ‘Aku hanya murka terhadap dosa dan keburukan yang telah dilakukannya. Jika sudah bertaubat, maka ia telah menjadi saudaraku.”

Sekarang lihatlah diri kita, pernahkah kita memarahi rekan, atau siapa pun karena perbuatannya, bukan kepada sosok pribadinya? Masih adakah dendam kesumat di hati kita saat mengingat kembali perlakuan zhalim yang telah dilakukan seseorang kepada kita? Bagaimana perasaan kita saat mengenang peristiwa pahit tersebut? Jika api kemarahan masih tersulut saat kita berjumpa dengan orang tersebut, atau saat ada yang menyebut namanya di depan kita, maka sesungguhnya syaitan masih bermain-main di taman hati kita.

Seorang desainer wanita yang mukim di Bali berkata kepada saya, “Bang, saya ini kalau bekerja sering marah-marah, tapi anehnya tak satu pun dari karyawan saya yang mengundurkan diri karena kemarahan saya. Karena mereka tahu, kemarahan saya untuk menjaga kualitas produk usaha saya yang semuanya untuk konsumsi export.” Saya tersenyum mendengar penuturan wanita yang bersuamikan bule mualaf ini. Saya mengatakan kepadanya bahwa marah adalah pekerjaan yang mudah, tetapi –sambil meminjam kalimat Aristoteles, “untuk marah kepada orang yang tepat, dengan tingkat kemarahan yang tepat, pada saat yang tepat, untuk tujuan yang tepat, dan dengan cara yang tepat, itu tidak mudah. Dan Anda, begitu juga karyawan Anda, tahu bahwa kemarahan Anda sangat tepat.”

Saya, dan Anda, pasti pernah mengalami kegagalan, lalu marah, kadang disertai dengan menyalahkan orang lain. Padahal tindakan menyalahkan orang lain atau melampiaskan kemarahan kepada orang lain adalah bukti kebodohan. Sebab, sesungguhnya yang bersalah adalah diri kita sendiri. Azim Jamal berkata, “Diri kita sesungguhnya merupakan hambatan terbesar dari apa yang kita wujudkan. Tak ada musuh atau teman yang lebih sejati dari itu. Apa yang bisa menghentikan kita hidup bahagia dan membuat perbedaan? Siapa yang bisa menghalangi keseimbangan dan harmoni kita? Tak lain dan tak bukan adalah diri kita sendiri! Jalan keluar termudah adalah menyalahkan orang lain: pasangan, anak, bos, karyawan, pelanggan, dan lain-lain. Hal ini memberikan jalan keluar bagi kita daripada harus menghadapi kelemahan diri sendiri.” George Bernard Shaw berkata, “Hidup kita dibentuk bukan oleh pengalaman kita tetapi oleh harapan kita.”

Perasaan bersalah merupakan sekutu amarah. Amarah dapat menimbulkan kerugian besar, begitu pula dengan perasaan bersalah. Kerugian yang diakibatkan oleh amarah kerap kali menimpa orang lain, sedangkan korban perasaan bersalah biasanya adalah diri sendiri. Perasaan bersalah, sebagaimana amarah, tak mesti bersifat destruktif. Energinya bisa dikontrol dan diarahkan untuk mengkoreksi perilaku kita dan menjadikan kita orang-orang yang baik.

Kita harus ingat bahwa setiap orang yang kita temui dalam hidup bisa menjadi guru tempat kita belajar. Keterbukaan dan kerendahan hati adalah komponen utama dalam mempromosikan cinta dan rasa hormat. Martin Luther King berkata, “Kita harus hadapi kebencian dengan cinta. Mata dibalas mata hanya akan membuat kita buta.” Mengapa kita tidak berdamai saja dengan setiap kejadian yang menimpa kita, karena itu justru akan membuat hati kita lebih tenang.

Desa Pamulang Barat
DAVY BYA SH